Minggu, 30 Juni 2013

Mungkin, Ini Sulit


Mungkin semua harus seperti ini. Ya, sepertinya Tuhan mempertemukan kita lagi untuk waktu yang lama karna kita harus sekelas selama dua tahun. Awalnya biasa saja karena memang kita juga tidak saling mengenal. Banyak siswa yang tidak saling kenal satu sama lain. Termasuk aku dan kamu. Setelah lebaran, kelas kita sedikit lebih akrab. Dan ketika sebuah festival budaya sekolah diadakan, saat itulah kehangatan kelas mulai terasa. Banyak hal yang dikerjakan bersama dan membuat kelas semakin kompak. Sejak acara itu, aku dan kamu memang mulai berkomunikasi via sms. Meskipun hanya karena membahas drama bahasa jawa, tapi obrolan kita bisa sampai malam. Kamu memang orang pertama yang bisa membuatku begadang sampai larut seperti itu.
Di kelas, aku dan kamu memang biasa saja. Sama seperti yang lain. Tidak ada yang berbeda. Komunikasi kita terus berjalan, setiap pulang sekolah selalu di lanjut dengan sms. Ada saja topik yang di bahas. Semakin lama, mulai ada rasa nyaman yang hinggap di benakku. Aku juga tidak bosan walau selalu smsan dengan kamu.
Tak hanya komunikasi di dunia maya, kami juga jalan-jalan bersama. Awalnya hanya ingin bersepeda santai dengan teman kelas saja, tapi malah sekalian melihat pelantikan pramuka. Berdua sama kamu emang terasa canggung. Maklumlah, kita baru dekat selama seminggu. 

Yah, waktu berjalan begitu cepat dan indah. Hari Sabtu dan Minggu kita sempatkan untuk bersama dan sekedar jalan-jalan setelah lima hari berkutat dengan pelajaran sekolah. Dan sekali lagi, aku nyaman dengan kedekatan kita ini. Meskipun sebenarnya, aku memiliki rasa was-was karna takut ada orang yang tersakiti dengan kedekatan kita. Tapi, ya di jalani dulu lah. Toh, kita hanya teman saja.
Hari itu adalah hari Minggu.Tepatnya tanggal 7 Oktober 2012. Seperti biasa, kamu mengajakku untuk keluar meskipun aku sendiri belum tau akan kemana. Aku sudah siap untuk pergi bersama kamu. Tinggal nunggu kamu menjemput saja di rumah. Namun, tiba-tiba aku harus pergi ke rumah nenek dan aku di wajibkan ikut. Aku berusaha menolaknya, tapi orang tua tetap memaksa. Saat itu, aku merasa sangat bersalah padamu. Untung saja kamu tidak marah dan memakluminya.
Setelah pulang, aku merasa sangat letih dan ingin segera beristirahat. Saat aku ijin ingin tidur, kamu berkata ada sesuatu yang ingin kau katakan. Hal itu membuat aku penasaran. Lalu kamu menyuruhku untuk tidur saja dan kamu akan mengatakannya besok saja di sekolah. Mana mungkin aku bisa tidur kalau ada sesuatu yang mengganjal terjadi ? Aku terus memaksamu untuk mengatakannya saat itu juga. Dan kau pun menyetujuinya.
Setelah menunggu beberapa saat, pesan darimu masuk. Dengan mata sedikit terpejam, aku membacanya. Dan aku langsung terbangun usai membaca isinya. Kamu mengutarakan perasaanmu padaku yang sebenarnya sama dengan apa yang aku rasakan saat itu. Masih teringat jelas kalau aku malah membalas dengan sedikit celotehan tak bermutu. Ya, itu hanya untuk memastikan saja apakah benar yang kau ucapkan itu. Jujur saja, banyak yang aku pertimbangkan sebelum aku menerimamu. Setelah memantapkan hati, pukul 10.15 aku resmi menjadi pengisi hatimu.
Aku tak pernah memandangmu sebagai orang biasa, kau tak biasa karna kau berhasil mencuri dan mengendalikan hatiku.
Senin, 8 Oktober 2012 menjadi hari yang berbeda. Sedikit terasa canggung di kelas apalagi saat bertemu denganmu. Sebelum upacara aku memberitahu sahabatku Ika dan Indah bahwa kini aku telah memilikimu. Di sore hari aku bersama temanku Fika pergi ke rumah sahabatku Via dan tak lupa memberitahu kabar itu.
Semakin lama semakin banyak orang yang tahu hubunganku denganmu meski kadang aku mengelak ketika di tanya tentang hubungan kita. Sabtu, 13 Oktober 2012 merupakan pengalaman pertama bisa bermain bersama denganmu dan teman-temanku hingga larut malam. Ya, saat itu memang ada festival di lapangan kota yang letaknya tidak jauh dari rumahku.
Singkat cerita, kau hadir telah mengubah segalanya menjadi lebih indah. Kamu selalu bisa membuatku nyaman saat bersamamu. Namun tidak ada kisah yang selalu indah. Banyak hal yang sering membuat perbedaan pendapat muncul. Meskipun begitu, kita selalu berusaha untuk mengatasinya.
Dan kini, ketika semua harus berakhir. Mungkin aku adalah orang yang harusnya marah besar atas kejadian ini. Ya, pengkhianatan dalam sebuah hubungan memang tidak pernah berakhir indah. Mungkin awalnya, aku tidak rela jika harus berpisah denganmu. Tapi, aku juga tidak pernah mau jika harus menjalin hubungan dengan orang yang kini telah memilih orang lain yang sebenarnya belum pasti mencintainya.
Sesekali tengoklah isi hatiku, jangan menengok isi hati orang lain yang sama sekali tidak mencintaimu.
Kamu memang telah menoreh luka dengan pengkhianatan yang kau lakukan. Namun, aku juga sangat sulit melupakan orang sepertimu. Bahkan hingga saat ini dimana mungkin kau telah memiliki orang lain penggantiku. Mungkin, aku adalah orang yang bodoh karena belum bisa membuka hati untuk menggantikanmu dan masih terus dan terus memikirkanmu.
Jangan paksa aku untuk melupakanmu, karena melupakanmu tidak semudah kamu melupakanku.
Waktu cepat berlalu saat bersamamu, tapi kenapa waktu terasa lama berlalu ketika kamu tak lagi bersama aku.
Sepertinya akan sulit untukku melupakan semua yang telah kita lalui. Melupakan objek-objek yang sering kita singgahi, melupakan tempat-tempat makan yang sering kunjungi, sekedar menemanimu bermain di selasar kota, berkeliling tanpa tujuan dan semuanya. Akan selalu menjadi kenangan indah.
Jujur saja, mengharapanmu kembali adalah yang ku idamkan karna kau tetap ku nanti demi keyakinan ini. Tapi, aku tidak akan memaksakan kehendk. Tuhan pasti punya rencana indah untuk kita dan semua pasti indah pada waktunya. Semoga, kejadian di bulan Juni adalah terakhir kalinya kamu menyakitiku. Dan Juli menjadi awal kita bisa kembali menjadi biasa. Seperti saat kita sama sekali belum pernah kenal J
Kadang dia diciptakan bukan untuk dimiliki, melainkan hanya memberikan sebuah pelajaran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar