Tugas praktikum biologi, tugas akhir membuat film, ulangan,
pekerjaan rumah dan laporan penelitian di Bali terus mengejar bahkan sekarang
muncul pula masalah yang memusingkan kepala. Dia datang dengan wajah cemberut
yang tak mengenakkan hati. Aku tak suka, wajah itu mengingatkan aku pada
musuh-musuh palestina yang seakan ingin memangsaku sampai tak berdaya. Gayanya,
senyum sinisnya, bicaranya, diamnya, dan aku muak pada semua yang berhubungan
dengannya. Iya, aku tau, dia sahabatku, sahabat yang selama ini ada di
sampingku, menemaniku kemana pu aku ingin pergi dan yang membuat hidupku lebih
berwarna. Tapi sedihnya kebersamaan yang indah itu harus terenggut begitu saja,
kami mengalami perang dingin semenjak study tour di Bali beberapa waktu lalu.
Awalnya tidak ada yang salah, kami tetap seperti dulu akrab dan selalu bersama,
di mana-mana berdua, di mana diri ini berada di situ pun ada dia. Tapi seketika
bencana datang menghadang, ombak yang besar menghancurkan persahabatan kami, yang
ada hanya puing-puing tak berarti. Jika di tanya bagaimana perasaanku, ya aku
sangat sedih dan tidak bisa menerimanya. Dalam waktu sekejap persahabatan yang
indah itu hancur berkeping-keping. Wajah manis berubah menakutkan, tak ada kata
yang keluar dari bibirku dan bibirnya. Bibir itu mengatup tanpa komando.
Kebahagiaan berubah menjadi kesedihan. Kebersamaan berubah menjadi perpisahan.
Sering aku bertanya di hati, kenapa ini bisa terjadi?
Mengapa kesedihan yang sama harus terulang kembali, mengapa harus ada kesedihan
setelah kesedihan itu pergi. Tak ada yang bisa menjawab semua pertanyaan yang
ada di benakku. Aku tidak bisa mengelak dari bencana itu dan semakin lemah saat
melihat tatapan matanya.
"Dit, besok kita harus take film di Cuntel, film kita
belum di buat sama sekali nih."
Aku beranikan diri menghampirinya. Aku harus bisa melawan
rasa malasku itu. Aku tidak mau di cap sebagai orang yang suka memutuskan tali
silaturrahmi dan orang yang tidak profesional. Aku tidak peduli apakah dia mau
dengar atau tidak, ditanggapi atau tidak aku tidak peduli. Biar saja, yang
penting tugas dan kewajibanku selesai. Dia mengangguk sambil bergumam pelan,
aku tidak sempat mendengar gumaman itu karena aku terlanjur mengangkat kaki
dari sana. Aku tak punya daya untuk terus menopang kaki di tempat itu. Tak ada
ucapan terima kasih yang aku dengar dari bibirnya. Biarlah! Aku tidak butuh
ucapan terima kasih itu, yang pasti aku lega karena kewajiban itu berhasil aku
tunaikan.
Setelah beberapa perang dingin itu tercium juga oleh
teman-temanku. Aku ditemui Yoga setelah shalat Zuhur berjamaah di Mushala.
"Lina ada masalah ya sama ni Adit?" tanyanya
sambil mengulurkan tangan bersalaman setelah shalat.
"iya, aku juga
nggak tau kenapa bisa terjadi." Ujarku.
"Awalnya gimana kejadiannya Lin?" Yoga balik
bertanya.
"Aku rasa karena masalah kami setelah study tour
kemarin, dia tiba-tiba saja berubah. Padahal saat berada di kapal dia masih
baik-baik saja."
"lah, memangnya dia kenapa setelah di Bali ? tanya
Yoga.
"Ih kepo ih, mau tau aja :p” celotehku.
“Pelit banget sih, gak mau cerita.” Ucapnya kesal.
“Terserah aku dong :p” ucapku.
"ya, setiap hubungan persahabatan memang ada pasang
surutnya. Tapi kita tidak boleh secepat dan semudah itu melupakan orang yang
telah mengisi hidup kita” ujarnya.
“weh, iya bener banget tapi sepertinya dia sendiri
mempersulitku untuk memperbaiki hubungan kami.”
“ya, mungkin dia masih belum bisa menerima apa yang telah
terjadi pada kalian.”
“Mungkin saja, tapi aku bakal berusaha biasa saja dan
profesional terhadap tuga yang kita garap bersama”
“iya, bener Lin. Tugas ya tugas, masalah pribadi ya ntar
kalau di luar jam pelajaran” ucap Yoga.
Aku menggerakkan bibir sambil membentuknya menjadi lebih
indah, mungkin hanya senyuman manis yang bisa aku ciptakan. Aku berharap
senyuman itu bisa meluluhkan hatinya. Tapi ternyata senyum itu hanya tinggal
senyum. Senyumanku teracuhkan begitu saja. Dia melengah tanpa membalas
sedikitpun. Hati menyuruh sabar, sabar dan tetap sabar.
Perjuangan belum usai!Aku tidak boleh menyerah….Aku harus
tetap berjuang sampai senyumanku di balas dengan senyuman yang paling manis.
"Oh iya Dit, besok pergi jam 8 ya dan ngumpul di rumah
Fika.”
Lagi-lagi senyumku mengembang sambil menyapanya. Aku
bersyukur punya bahan pembicaraan supaya bisa berbicara dengannya. Dia diam
saja, lagi-lagi tanpa ucapan sepatah katapun. Ah, sudah biasa!
Hari ini sampai di kaki gunung Merbabu tempat kami
mengerjakan tugas film. Tak ada suara-suara yang berarti antara aku dan Adit. Kami
hanya diam membisu seperti patung. Ya, aku mulai terbiasa dengan sikap Adit
ini. Teman-teman yang sudah mengetahui semuanya sangat memaklumi apa yang
terjadi antara kami. Mungkin memang terlihat sangat aneh ketika dua sahabat
yang dulu selalu bersama, tiba-tiba menjadi orang yang saling tak kenal seperti
ini. Tapi, itulah kami saat ini.
"Laper nih, istirahat dulu yuk" ucap Ani salah
seorang teman kelasku.
“Ya sudah, ayo ke warung bawah itu. Kita makan di sana”
ujarku.
“Memang ada ?” ucapnya.
“Ada kok, santai aja. Mau makan apa saja pasti tersedia.”
“Sudahlah An, Lina lebih pengalaman di sini.” Celoteh Fika.
“Udah deh Fik, jangan mulai. Ayo semuanya, ayo Dit” kataku
Lagi-lagi aku tabah-tabahkan hati setelah sekali lagi di
cuekin. Di hati aku berdoa semoga dia bisa menerima aku kembali menjadi sahabatnya.
Sayang, persahabatan indah itu harus pupus di tengah jalan setelah sekian lama
membinanya.
“Mau makan apa ?” tanyaku
“Tolong gorengan aja deh yang banyak, aku udah bawa bekal
kok” Ucap Eni anggota kelompokku yang lain.
“Oke, Fika sama Yoga mau makan apa ?”
“Aku sama Yoga Nasi goreng aja deh Lin.”
“Kamu apa Dit ?”
“Gak ah”
Dia cuek, tanpa menoleh sama sekali, matanya lekat tertuju
ke layar telpon genggamnya.
"Ya udah, aku pesenin minum aja deh." kali ini
suaraku terdengar serak.
Memang rasanya sangat menyakitkan jika harus terus begini.
Namun, setidaknya kali ini aku bisa mendengar suara Adit yang setelah sekian
lama tak ku dengar. Rasanya, aku ingin berontak pada Adit bahwa aku tidak ingin
diam-diam seperti ini. Aku ingin persahabatan kami yang dulu.
Rasa lelah mulai menggerogoti tubuhku. Hawa pegunungan
semakin membuatku merasa ngantuk. Aku dan teman-temanku duduk melingkar di
temani makanan yang telah kami pesan. Awlanya Adit merasa sungkan saat harus
duduk bersebelahan denganku. Begitu sebaliknya, aku juga merasa canggung saat
berdekatan dengan “mantan” teman kesayanganku itu. Aku menyandarkan kepalaku di
sebuah bambu karena sudah tidak bisa menahan kantukku. Ketika terbangun, aku
sangat kaget karena bambu yang menopang kepalaku berganti menjadi bahu Adit.
Aku segera menarik kepalaku dan mengambil minuman.
“kemarin jadi ke semarang ?” ucapnya.
Aku sangat kaget setelah sekian lama tidak berbicara
denganku, dia memulai pembicaraan.
“Jadi, sayang sekali kamu tidak ikut.” Ucapku sedikit
canggung.
“Ya, giman. Kemarin motorku masih di bengkel.”
Aku hanya terdiam karena tidak tau harus menjawab apa. Ku
pikir Adit bisa mulai biasa setelah percakapan kami itu. Tapi, Itu salah besar.
Adit masih saja setia dengan sikapnya yang suka mematungkan diri.
Maaf kalau selama ini aku tidak bisa menjadi sahabat
yang baik bagimu, maaf kalau selama ini aku sering repotkanmu dan
maaf kalau aku harus mengambil keputusan yang aku sendiri tak sanggup
melakukannya. Tapi sanggup tak sanggup aku harus tetap menjalankannya. Kadang
air mata deras membasahi pipi ketika mengingat semua kenangan yang terjadi
antara aku dan adit.
Seringkali terlintas dalam benakku, jika memang harus
bersikap tidak kenal aku pun tidak mempermasalahkannya. Yang penting bisa
mengkondisikan ketentraman di dalam kelas untuk setahun ke depan. Jika dipaksa
untuk seperti dahulu, mungkin itu adalah hal yang mustahil dan rasanya tidak
akan sama lagi seperti dulu.
Aku akan terus menjadi sahabatmu meskipun kamu sendiri tidak
pernah menyadari hal itu.
Jangan berharap cinta yang sempat pergi akan tetap terasa sama ketika ia kembali lagi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar