Minggu, 30 Juni 2013

Terima Kasih, Sayang


Tugas praktikum biologi, tugas akhir membuat film, ulangan, pekerjaan rumah dan laporan penelitian di Bali terus mengejar bahkan sekarang muncul pula masalah yang memusingkan kepala. Dia datang dengan wajah cemberut yang tak mengenakkan hati. Aku tak suka, wajah itu mengingatkan aku pada musuh-musuh palestina yang seakan ingin memangsaku sampai tak berdaya. Gayanya, senyum sinisnya, bicaranya, diamnya, dan aku muak pada semua yang berhubungan dengannya. Iya, aku tau, dia sahabatku, sahabat yang selama ini ada di sampingku, menemaniku kemana pu aku ingin pergi dan yang membuat hidupku lebih berwarna. Tapi sedihnya kebersamaan yang indah itu harus terenggut begitu saja, kami mengalami perang dingin semenjak study tour di Bali beberapa waktu lalu. Awalnya tidak ada yang salah, kami tetap seperti dulu akrab dan selalu bersama, di mana-mana berdua, di mana diri ini berada di situ pun ada dia. Tapi seketika bencana datang menghadang, ombak yang besar menghancurkan persahabatan kami, yang ada hanya puing-puing tak berarti. Jika di tanya bagaimana perasaanku, ya aku sangat sedih dan tidak bisa menerimanya. Dalam waktu sekejap persahabatan yang indah itu hancur berkeping-keping. Wajah manis berubah menakutkan, tak ada kata yang keluar dari bibirku dan bibirnya. Bibir itu mengatup tanpa komando. Kebahagiaan berubah menjadi kesedihan. Kebersamaan berubah menjadi perpisahan.

Sering aku bertanya di hati, kenapa ini bisa terjadi? Mengapa kesedihan yang sama harus terulang kembali, mengapa harus ada kesedihan setelah kesedihan itu pergi. Tak ada yang bisa menjawab semua pertanyaan yang ada di benakku. Aku tidak bisa mengelak dari bencana itu dan semakin lemah saat melihat tatapan matanya.

"Dit, besok kita harus take film di Cuntel, film kita belum di buat sama sekali nih."
Aku beranikan diri menghampirinya. Aku harus bisa melawan rasa malasku itu. Aku tidak mau di cap sebagai orang yang suka memutuskan tali silaturrahmi dan orang yang tidak profesional. Aku tidak peduli apakah dia mau dengar atau tidak, ditanggapi atau tidak aku tidak peduli. Biar saja, yang penting tugas dan kewajibanku selesai. Dia mengangguk sambil bergumam pelan, aku tidak sempat mendengar gumaman itu karena aku terlanjur mengangkat kaki dari sana. Aku tak punya daya untuk terus menopang kaki di tempat itu. Tak ada ucapan terima kasih yang aku dengar dari bibirnya. Biarlah! Aku tidak butuh ucapan terima kasih itu, yang pasti aku lega karena kewajiban itu berhasil aku tunaikan.
Setelah beberapa perang dingin itu tercium juga oleh teman-temanku. Aku ditemui Yoga setelah shalat Zuhur berjamaah di Mushala.
"Lina ada masalah ya sama ni Adit?" tanyanya sambil mengulurkan tangan bersalaman setelah shalat.
 "iya, aku juga nggak tau kenapa bisa terjadi." Ujarku.
"Awalnya gimana kejadiannya Lin?" Yoga balik bertanya.
"Aku rasa karena masalah kami setelah study tour kemarin, dia tiba-tiba saja berubah. Padahal saat berada di kapal dia masih baik-baik saja."
"lah, memangnya dia kenapa setelah di Bali ? tanya Yoga.
"Ih kepo ih, mau tau aja :p” celotehku.
“Pelit banget sih, gak mau cerita.” Ucapnya kesal.
“Terserah aku dong :p” ucapku.
"ya, setiap hubungan persahabatan memang ada pasang surutnya. Tapi kita tidak boleh secepat dan semudah itu melupakan orang yang telah mengisi hidup kita” ujarnya.
“weh, iya bener banget tapi sepertinya dia sendiri mempersulitku untuk memperbaiki hubungan kami.”
“ya, mungkin dia masih belum bisa menerima apa yang telah terjadi pada kalian.”
“Mungkin saja, tapi aku bakal berusaha biasa saja dan profesional terhadap tuga yang kita garap bersama”
“iya, bener Lin. Tugas ya tugas, masalah pribadi ya ntar kalau di luar jam pelajaran” ucap Yoga.
Aku menggerakkan bibir sambil membentuknya menjadi lebih indah, mungkin hanya senyuman manis yang bisa aku ciptakan. Aku berharap senyuman itu bisa meluluhkan hatinya. Tapi ternyata senyum itu hanya tinggal senyum. Senyumanku teracuhkan begitu saja. Dia melengah tanpa membalas sedikitpun. Hati menyuruh sabar, sabar dan tetap sabar.
Perjuangan belum usai!Aku tidak boleh menyerah….Aku harus tetap berjuang sampai senyumanku di balas dengan senyuman yang paling manis.
"Oh iya Dit, besok pergi jam 8 ya dan ngumpul di rumah Fika.”
Lagi-lagi senyumku mengembang sambil menyapanya. Aku bersyukur punya bahan pembicaraan supaya bisa berbicara dengannya. Dia diam saja, lagi-lagi tanpa ucapan sepatah katapun. Ah, sudah biasa!
Hari ini sampai di kaki gunung Merbabu tempat kami mengerjakan tugas film. Tak ada suara-suara yang berarti antara aku dan Adit. Kami hanya diam membisu seperti patung. Ya, aku mulai terbiasa dengan sikap Adit ini. Teman-teman yang sudah mengetahui semuanya sangat memaklumi apa yang terjadi antara kami. Mungkin memang terlihat sangat aneh ketika dua sahabat yang dulu selalu bersama, tiba-tiba menjadi orang yang saling tak kenal seperti ini. Tapi, itulah kami saat ini.
"Laper nih, istirahat dulu yuk" ucap Ani salah seorang teman kelasku.
“Ya sudah, ayo ke warung bawah itu. Kita makan di sana” ujarku.
“Memang ada ?” ucapnya.
“Ada kok, santai aja. Mau makan apa saja pasti tersedia.”
“Sudahlah An, Lina lebih pengalaman di sini.” Celoteh Fika.
“Udah deh Fik, jangan mulai. Ayo semuanya, ayo Dit” kataku
Lagi-lagi aku tabah-tabahkan hati setelah sekali lagi di cuekin. Di hati aku berdoa semoga dia bisa menerima aku kembali menjadi sahabatnya. Sayang, persahabatan indah itu harus pupus di tengah jalan setelah sekian lama membinanya.
“Mau makan apa ?” tanyaku
“Tolong gorengan aja deh yang banyak, aku udah bawa bekal kok” Ucap Eni anggota kelompokku yang lain.
“Oke, Fika sama Yoga mau makan apa ?”
“Aku sama Yoga Nasi goreng aja deh Lin.”
“Kamu apa Dit ?”
“Gak ah”
Dia cuek, tanpa menoleh sama sekali, matanya lekat tertuju ke layar telpon genggamnya.
"Ya udah, aku pesenin minum aja deh." kali ini suaraku terdengar serak.
Memang rasanya sangat menyakitkan jika harus terus begini. Namun, setidaknya kali ini aku bisa mendengar suara Adit yang setelah sekian lama tak ku dengar. Rasanya, aku ingin berontak pada Adit bahwa aku tidak ingin diam-diam seperti ini. Aku ingin persahabatan kami yang dulu.
Rasa lelah mulai menggerogoti tubuhku. Hawa pegunungan semakin membuatku merasa ngantuk. Aku dan teman-temanku duduk melingkar di temani makanan yang telah kami pesan. Awlanya Adit merasa sungkan saat harus duduk bersebelahan denganku. Begitu sebaliknya, aku juga merasa canggung saat berdekatan dengan “mantan” teman kesayanganku itu. Aku menyandarkan kepalaku di sebuah bambu karena sudah tidak bisa menahan kantukku. Ketika terbangun, aku sangat kaget karena bambu yang menopang kepalaku berganti menjadi bahu Adit. Aku segera menarik kepalaku dan mengambil minuman.
“kemarin jadi ke semarang ?” ucapnya.
Aku sangat kaget setelah sekian lama tidak berbicara denganku, dia memulai pembicaraan.
“Jadi, sayang sekali kamu tidak ikut.” Ucapku sedikit canggung.
“Ya, giman. Kemarin motorku masih di bengkel.”
Aku hanya terdiam karena tidak tau harus menjawab apa. Ku pikir Adit bisa mulai biasa setelah percakapan kami itu. Tapi, Itu salah besar. Adit masih saja setia dengan sikapnya yang suka mematungkan diri.
Maaf  kalau selama ini aku tidak bisa menjadi sahabat yang baik bagimu, maaf  kalau selama ini aku sering repotkanmu dan maaf  kalau aku harus mengambil keputusan yang aku sendiri tak sanggup melakukannya. Tapi sanggup tak sanggup aku harus tetap menjalankannya. Kadang air mata deras membasahi pipi ketika mengingat semua kenangan yang terjadi antara aku dan adit.
Seringkali terlintas dalam benakku, jika memang harus bersikap tidak kenal aku pun tidak mempermasalahkannya. Yang penting bisa mengkondisikan ketentraman di dalam kelas untuk setahun ke depan. Jika dipaksa untuk seperti dahulu, mungkin itu adalah hal yang mustahil dan rasanya tidak akan sama lagi seperti dulu.
Aku akan terus menjadi sahabatmu meskipun kamu sendiri tidak pernah menyadari hal itu.
Jangan berharap cinta yang sempat pergi akan tetap terasa sama ketika ia kembali lagi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar